Tradisi Palang Pintu Dari Betawi
Salah satu tradisi adat pernikahan Betawi adalah Palang Pintu. Tradisi unik ini berisi laga pencak silat, adu pantun, hingga pembacaan Al-Quran dan salawat. Hingga sekarang, tidak ada catatan yang menyebutkan kapan Palang Pintu bermula di Betawi. Saat itu, Murtadho dikenal sebagai Jawara Kemayoran. Untuk bisa mempersunting anak perempuannya, Si Pitung harus membuka Palang Pintu, melawan ayah calon Istrinya yaitu Murtadho dengan keterampilan silat dan beradu pantun. Dalam bahasa Betawi, palang artinya penghalang agar orang atau sesuatu tidak bisa masuk/lewat.
Artinya, tradisi Palang Pintu dimaksudkan agar pihak mempelai laki-laki membuka pintu restu dari mempelai perempuan. Kemudian, pintu (rumah pihak perempuan) dijaga oleh jawara sebagai penghalang. Jawara dari mempelai perempuan itu harus ditaklukkan oleh pihak laki-laki atau perwakilan jawaranya. Dalam prosesi Palang Pintu, akan diselenggarakan laga bela diri silat, adu pantun, serta pembacaan Al-Quran dan salawat. Ketiga aksi itu memiliki simbol masing-masing bagi kelangsungan keluarga yang akan dibangun oleh kedua pasangan.
Dari muasalnya, tradisi Palang Pintu dianggap berasal dari Betawi Tengah dan Betawi Kota. Dilansir dari situs pemerintah Jakarta, tradisi Palang Pintu adalah simbol ujian yang harus dilalui mempelai laki-laki. Palang Pintu ini juga berfungsi sebagai upaya mendekatkan hubungan antarkampung dan antarkeluarga. Seiring perkembangannya, Palang Pintu tidak hanya diselenggarakan dalam acara pernikahan, melainkan juga acara penyambutan tamu hingga peresmian kantor.

This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteTerimakasih saya jadi tau tetang palang pintu betawi
ReplyDeleteTradisi yang sangat terkenal di betawi yang sampai saat ini masih di lestarikan oleh masyarakat betawi
ReplyDeleteMantap,menambah wawasan tentang budaya betawi
ReplyDeleteBetawi the beast ngab
ReplyDelete